Gusti Mboten Sare: Hikayat Debu dan Prahara 1965

By Admin


Ilustrasi

nusakini.com, Aroma kopi tubruk yang diseduh air mendidih dari ketel hitam legam itu menguar pelan, bercampur sengak tembakau lintingan yang dibakar dengan api dari pelita kecil. Badri, lelaki tua delapan puluh dua tahun yang urat-urat tangannya menonjol bak akar beringin, duduk mematung di lincak bambu reyot sambil mendengarkan desir angin kemarau menyapu daun-daun jati.

Di balik mata tuanya yang kini berselaput lamur, tersimpan sebuah pusaran zaman edan yang pernah menggilas habis kewarasannya puluhan tahun silam. Kehidupannya yang bersahaja sebagai wong cilik hanyalah noktah debu, tak berdaya ketika badai sejarah bangsa ini meletus pada malam jahanam di pergantian bulan September menuju Oktober 1965.

Nun jauh di ibu kota, lakon kekuasaan raksasa dimainkan dengan tumbal darah dan bedil yang menyalak di tengah pekatnya malam. Enam jenderal dan satu perwira muda Angkatan Darat—Ahmad Yani hingga Pierre Tendean—dicabut paksa dari peraduan mereka, direnggut nyawanya, lalu dilemparkan ke liang sumur tua di Lubang Buaya layaknya onggokan dahan mati.

Badri yang hanya seorang guru desa tak pernah mengerti tafsir rumit Demokrasi Terpimpin Bung Karno, sementara di awang-awang sana, perseteruan antara tentara dan kaum komunis bagaikan gunung berapi yang siap memuntahkan lahar kiamat. Ketika Mayjen Soeharto mengambil alih nakhoda republik yang oleng, sebuah narasi resmi ditancapkan dengan begitu mutlak: PKI adalah satu-satunya dalang di balik prahara tersebut.

Namun, gajah-gajah di puncak bukit yang bertarung selalu menyisakan pelanduk yang mati terinjak-injak di atas tanah berlumpur. Badri dijemput di suatu senja tanpa selembar pun surat pengadilan, dituduh terseret arus sayap kiri oleh pusaran fitnah yang membabi buta, lalu dibiarkan melenyapkan hari-hari terbaiknya di balik terali besi.

Ia terampas kebebasannya, menjadi satu dari ratusan ribu anak pertiwi yang ditelan ombak penangkapan dan pembantaian massal di berbagai pelosok daerah sepanjang akhir 1965 hingga 1966. Selama tiga dekade rezim Orde Baru memaksakan ajaran sejarah G30S/PKI yang kaku, manusia-manusia malang seperti Badri dipaksa hidup melata layaknya hantu yang tak diakui di tanah kelahirannya sendiri.

Barulah ketika badai Reformasi 1998 berembus merobohkan tembok kebisuan negara, sejarah yang terpasung itu mulai diurai kembali helai demi helai. Para cerdik pandai perlahan memisahkan tragedi politik-militer di Jakarta dari lara kekerasan massal warga sipil, menyorot kemelut internal tentara dan andil pihak asing, serta akhirnya sudi memberi panggung bagi kesaksian para penyintas yang sekian lama hanya bisa membisu.

Di atas lincak bambunya, Badri menenggak tetes terakhir kopi yang kini mendingin, menyunggingkan senyum tipis yang memendam ribuan kitab kesabaran. "Zaman boleh bergolak dan sejarah boleh ditulis sang penguasa, tetapi Gusti tidak pernah tidur," bisiknya parau, menolak dendam namun merawat harapan agar bangsa ini berani merangkul masa lalunya agar tak lagi menumbalkan anak-anaknya sendiri di altar kekuasaan. (*)